Perlu Keseriusan Garap Wisata Agro di Bangli
Potensi pariwisata agro yang tersebar di sejumlah lokasi yang ada di Kabupaten Bangli perlu digarap dengan serius. Wisata agro memiliki potensi besar untuk dikembangkan dan sekaligus jika dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan di Bangli. Bangli memiliki banyak potensi wisata agro, oleh sebab itu ini perlu dikemas dan dikembangkan dengan baik.
Wisata agro di Bangli ini harus digarap secara lebih maksimal. Sementara itu, adupun permasalahan yang dihadapi Bangli saat ini adalah proses pembangunan yang belum terintegrasi antar satu kawasan dengan kawasan lain. Khusus untuk pariwisata, Bangli bukan hanya Kintamani saja, namun juga daerah lain yang memiliki potensi yang sama. Untuk itu melalui pembangunan terintegrasi, diharapkan ke depan Bangli akan mampu bersaing dengan kabupaten lainnya di Bali.
Sementara itu, wisata agro yang ada di Bangli selain Kintamani, potensi wisata agro yang ada di Bangli tersebar di sejumlah kawasan dengan ciri khas dan keunikan yang dimilikinya. Ini potensi luar biasa yang harus menjadi perhatian pemerintah dan Bupati Bangli.
Tanah Lot Art Festival Kembali Digelar
Sebagai destinasi favorit di Bali, DTW (daerah tujuan wisata) Tanah Lot tak pernah kering dengan aktivitas seni dan budaya. Selain memiliki beberapa pura yang mampu menciptakan atraksi budaya alami, juga adanya keinginan memberi inovasi dan pihak pengelola yang kreatif.
Buktinya, tahun 2010 ini DTW yang mendapat penghargaan Emerald (sebuah penghargaan tertinggi) THK (Tri Hita Karana) Awards & Accreditation ini kembali menggelar Tanah Lot Art Festival. Acara tersebut akan digelar pada 27 Juli – 02 Agustus mendatang yang dipusatkan di Obyek Wisata Tanah Lot, Kediri, Tabanan.
Seni dan budaya yang ada di Kabupaten Tabanan memiliki keragaman dan kekhasan tersendiri dibandingkan dengan kesenian di daerah lainnya. Hal itu merupakan potensi yang dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, di samping sebagai upaya pelestarian juga pengembangan. Aktivitas ini juga menjadi sebuah promosi destinasi yang diharapkan mampu untuk mengajegkan seni budaya Bali yang Adi Luhung.
Selain itu, Tanah Lot Art Festival 2010 akan mengacu pada 5 materi pokok yaitu Pagelaran, Lomba, Parade, Pameran dan Dokumentasi. Selama pelaksanaan, puluhan seniman dan ribuan masyarakat Tabanan akan terlibat. Lewat pelaksanaan Tanah Lot Art Festival diharapkan akan lahir budayawan muda yang berprestasi. Juga memberikan penyegaran bagi kehidupan manusia. Sesuai Perda No.3 tentang Pariwisata Budaya yang menekankan Budaya Bali yang dijiwai oleh agama Hindu, itu berarti wajib melestarikan dan mengembangkan budaya Bali.
Sementara itu, dalam pagelaran akan menampilkan kesenian Wayang Cenk Blonk, Kesenian klasik dan kreasi baru khas Tabanan, Joged
Bumbung Mebarung, kontemporer, Geguntangan dan Pesantian, Arja Klasik, Drama Gong, Gender Wayang dan Pragmentari Bleganjur. Parade menampilkan : Parade Gong Kebyar Wanita diikuti 10 kecamatan di Kabupaten Tabanan, Parade Gong Kebyar Dewasa dan Anak-anak juga ,Parade Gong kebyar dewasa, Parade angklung kebyar.
Sementara itu, untuk kegiatan lomba akan menampilkan lomba layang-layang, lomba merangkai bunga, janur, makanan dan busana (PKK), lomba Klepon dan Kuliner khas Kabupaten Tabanan. Sementara kegiatan pameran akan menampilkan produk-produk unggulan perindustrian pangan, kerajinan dan desain, pameran foto dan film dokumentasi obyek pariwisata, pameran buku-buku tentang obyek pariwisata dan pameran lukisan.
Nikmati Keunikan Nusa Lembongan
Bagai air mengalir, wisatawan mancanegara berwisata ke Pulau Nusa Lembongan. Maka tak salah kalau pulau kecil ini menjadi salah satu objek wisata bahari terfavorit bagi wisatawan. Ribuan wisatawan dalam setiap harinya datang ke pulau mungil yang terletak di Kabupaten Klungkung itu. Bahkan, saat peak season jumlah wisatawan yang datang ke sana bisa mencapai 1.500 orang.
Manisnya madu Nusa Lembongan membuat sejumlah perusahaan cruise menjual paket liburan ke sana. Salah satunya adalah Bounty Cruise yang bermarkas di Benoa. Pagi hari sekitar pukul 09.30 Wita. Bounty Cruise sudah memulai perjalanannya ke Nusa Lembongan, penumpang Iayaknya seorang raja, karena dilayani ramah para kru kapal. Layaknya fasilitas di kapal pesiar mewah, sarapan pagi sudah tersedia di kapal itu.
Agar bisa menikmati fasilitas ini wisatawan harus membeli tiket, seharga Rp.700.000, untuk wisatawan asing dan untuk wisatawan domestik hanya Rp.600.000. Yang menarik adalah paket liburan untuk warga lokal Bali harganya sangat murah dan terjangkau, Rp.400.000 per orang.
Dengan biaya itu, kita sudah bisa menikmati banyak permainan dan fasilitas. Makan sepuasnya, bisa memanfaatkan permainan banana boat, snorkeling, jalan-jalan menikmati indahnya Pulau Nusa Lembongan hingga main prosotan (terjun). Namun jika ingin mencoba diving atau jet ski ada tambahan biaya.
Pemilik Bounty Cruise menyatakan, sudah saatnya masyarakat Bali mengenal Bali lebih banyak. Wisatawan asing datang ke Bali untuk berlibur. Kenapa warga lokal tidak berlibur di rumah sendiri. Untuk itu, Bounty Cruise memberikan special prices kepada masyarakat lokal. Karena mereka juga perlu menikmati keindahan Bali.
Perjalanan dari Benoa ke Pulau Nusa Lembongan kurang lebih 1 jam dengan kecepatan kapal 20 -25 knot atau 45 kilometer per jam. Selama perjalanan kita bisa menikmati sejumlah hiburan, mulai dari nonton film hingga bernyanyi bersarna di atas deck kapal. Lagu-lagu yang dimainkan grup band ini disesuaikan dengan pasar wisatawan. Hari Senin misalnya, khusus melayani wisatawan dari China sehingga lagu yang dimainkan adalah lagu Mandarin. Sekitar pukul 10.30 Wita perjalanan sudah sampai di pontoon bounty cruise. Pontoon ini digunakan kapal untuk berlabuh, sebab Nusa Lembongan belum punya dermaga.
Pontoon ini seperti pulau kecil yang dilengkapi sengan sejumlah fasilitas, mulai dari restoran hingga berbagai permainan. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat transit menuju ke Pulau Nusa Lembongan yang menggunakan sekoci dengan jarak sekitar 1 kilometer.
Nusa Lembongan
Nusa Lembongan adalah pulau kecil yang tanahnya berkapur. Kehidupan masyarakat di sana memang terkesan terisolir mengingat belum adanya transportasi yang memadai. Sejumlah villa dan hotel sudah berdiri di bukit terjal dari pinggir pantai. Bahkan di pinggir jalan sempit berukuran 2,5 meter sudah ada sejumlah art shop dan warung internet. Untuk menuju ke sejumlah objek di pulau ini kita menggunakan angkutan pick up beratap terpal. Setelah menempuh jarak sekitar 5 kilometer, kita sampai di perkampungan sentra rumput laut. Di tempat ini kita akan menemukan para petani yang tengah membersihkan rumput laut, juga proses pengolahannya.
Menjadi tempat kunjungan yang menarik adalah sebuah rumah unik berupa gua bawah tanah yang dinamai rumah Gala Gala. Untuk memasuki Gala Gala yang berupa goa ini, kita harus menuruni tangga, karena rumah ini terletak 10 meter di bawah permukaan tanah kapur. Tinggi gua ini bervariasi dari sekitar 1-1,75 meter, tak jarang kita harus menunduk dan berjongkok untuk menuju ruangan-ruangan yang ada.
Gala Gala dibuat sejak tahun 1961 hingga 1976 oleh seorang penduduk Desa Lembongan bernama Made Byasa yang berprofesi seorang dalang. Karya unik Byasa tersebut terinspirasi dari kisah kehidupan keluarga Pandawa yang hidup di hutan. Selama 17 tahun Byasa bekerja siang dan malam untuk mewujudkan karya monumentalnya itu. Sejak umur 75 tahun, tubuh rentanya terus menggali sampai umumya menginjak 93 tahun barulah ia berhenti, kemudian Ia meninggal pada usia 96 tahun.
AS Pasar Potensial Wisata Konvensi
Bali sebagai salah satu destinasi favorit wisatawan Amerika Serikat (AS), menurut Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Bali, sangat potensial mengembangkan wisata meetings, incentives, conventions and exhibitions (MICE) atau konvensi. Berdasarkan analisis pasar, tiap tahunnya perusahaan-perusahaan di AS membelanjakan milyaran dolar AS untuk wisata konvensi bagi distributor, agen dan karyawannya.
Untuk dapat menangkap pasar wisata konvensi dari wisatawan AS, perlu dilakukan pendekatan kepada Singapura (Singapore Airlines dan Singapore Tourism Board) dalam rangka merencanakan paket twin market antara Singapura dan Bali untuk paket MICE bagi AS.
Selama ini destinasi internasional yang menjadi tempat favorit untuk tempat kunjungan wisata konvensi bagi wisatawan AS, adalah Caribbean, Meksiko, kawasan Asia Pasifik seperti Singapura, Hongkong, Seoul dan Bangkok. Turis AS sangat peduli dengan kelestarian lingkungan hidup sehingga berbagai produk pariwisata dengan konsep eco friendly menjadi pilihan utama mereka. Promosi-promosi yang berlabel ramah lingkungan tentunya akan sangat efektif di pasar AS.
Tingginya minat perusahaan multinasional, BUMN dan ekspatriat untuk melakukan meeting dan incentive tour ke kawasan wisata di Bali, juga diakui kalangan pengusaha hotel. Adanya kegiatan MICE yang digelar di Bali sangat mendongkrak tingkat hunian hotel di Bali.
Order-order MICE sangat ditentukan oleh pendekatan personal khususnya dengan agen MICE tertentu. Tak ketinggalan melakukan sales call ke pemerintah serta fleksibilitas dalam mengakomodasi permintaan organizer.
Selain itu, dari segi revenue grup MICE sangat tinggi, spending money wisatawan MICE 10 kali lebih besar daripada wisatawan biasa, karena wisatawan MICE dipastikan akan memakai kamar, menikmati kuliner dan ruang meeting.
Banyaknya wisatawan mancanegara yang memilih Bali sebagai wisata MICE juga tidak terlepas dari keramahtamahan masyarakat dan lingkungan yang aman serta nyaman.
Paceklik Kunjungan, Hotel Melati Garap MICE
Menghadapi musim paceklik kunjungan, sejumlah pengelola hotel melati di kawasan Denpasar mengaku mengotimalkan kegiatan MICE (meeting, incentive, conference, and exhibition ). Hal itu untuk menutupi tingkat hunian hotel yang turun hingga 30-40 persen akibat minimnya wisatawan domestik (wisdom) yang berlibur ke Bali.
Dari pengalaman sebelumnya pasca-Nataru, wisdom ke Bali pasti sedikit. Jika bisa mempertahankan tingkat hunian 50 persen saja itu sudah bagus. Karena itu, dengan menjual paket MICE, tingkat hunian yang turun bisa terdongkrak.
Selain itu, penawaran paket MICE akan menutupi pendapatan hotel yang merosot hingga menjelang musim kunjungan wisatawan domestik yakni antara bulan Juni-Juli mendatang. Indikasi yang jelas terlihat belakangan ini, tiap penyelenggaraan wisata konvensi ke daerah kita, peminatnya melimpah, sampai dua kali lipat dibandingkan di tempat lain.
Keuntungan menawarkan paket MICE cukup banyak. Selain tidak mengenal musim, peserta MICE biasanya memiliki spending money yang tinggi dibandingkan pengunjung lainnya. Selain mengotimalkan pasar MICE, juga diberikan potongan harga hingga 40 persen dari tarif normal untuk menarik pengunjung.
Sementara itu, minat perusahaan multinasional, BUMN dan ekspatriat untuk melakukan meeting dan incentive tour ke kawasan wisata di Bali sangat tinggi. Terbukti, selain tingkat hunian yang masih stabil, jadwal meeting yang dilakukan pihak instansi pemerintahan maupun swasta juga terus berjalan.
Selain itu, dari segi revenue grup MICE sangat tinggi, spending money wisatawan MICE bisa 10 kali lebih besar daripada wisatawan biasa. Pasalnya, wisatawan MICE pasti memakai kamar, menikmati F&B dan tentu saja ruang meeting. Keramah-tamahan masyarakat dan lingkungan yang aman serta nyaman, memang menjadikan Bali sebagai pilihan terbaik untuk penyelenggaraan wisata konvensi atau wisata MICE.
Dan order-order MICE sangat ditentukan oleh pendekatan personal khususnya dengan agen MICE tertentu. Tak ketinggalan melakukan salles call ke pemerintah serta fleksibilitas dalam mengakomodasi permintaan organizer.
Harus Diprioritaskan, Promosi Wisata Bahari
Indonesia memiliki wilayah perairan yang sangat luas dan bisa menjadi modal pengembangan sektor pariwisata di Indonesia. Ketua DPP HPI mengatakan, untuk tahun 2010 ini pemerintah pusat mesti memprioritaskan promosi kekayaan wisata bahari Indonesia untuk mendukung sektor pariwisata.
Perairan Indonesia cukup luas sehingga memiliki keindahan alam bawah laut yang sangat beragam. Keindahan alam bawah laut ini bisa dijadikan modal untuk pengembangkan wisata bahari seperti kegiatan diving, snorkeling termasuk water sport. Di tahun-tahun sebelumnya pemerintah pusat lebih banyak mengedepankan pariwisata budaya dan menampilkan keindahan pemandangan alam. Pada tahun 2010 ini, Indonesia bisa mengedepankan wisata bahari untuk menggerakkan sektor pariwisata.
Di Indonesia sendiri termasuk Bali memiliki kawasan wisata bahari yang sangat indah. Salah satu contoh wisatawan yang berlibur ke Bali bisa menikmati wisata bahari seperti surfing, diving, snorkeling dan wisata bahari lainnya di Bali.
Berkembangnya wisata bahari di Indonesia, juga sangat tergantung dari dukungan kegiatan promosi yang dilakukan pemerintah pusat. Selain Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, keindahan wisata bahari di Indonesia wajib dipromosikan departemen yang membawahi masalah perikanan dan kelautan Indonesia.
Bali memiliki kawasan wisata bahari seperti Nusa Penida, Pulau Menjangan, Amed, Lembongan dan kawasan wisata bahari yang lain. Walaupun kawasan wisata bahari di Bali sudah cukup dikenal, pemerintah pusat mesti tetap mempromosikan wisata bahari di Bali ke mancanegara.
Wisata bahari di Bali termasuk kawasan wisata lain di Indonesia memiliki kelebihan masing-masing. Seperti kawasan perairan di Nusa Penida dilengkapi dengan ikan khusus seperti mola-mola. Ikan mola-mola di Nusa Penida ini mesti dipromosikan kepada dunia. Para penyelam dunia tentunya akan sangat tertarik melihat secara langsung ikan yang ada di kawasan Nusa Penida tersebut. Ini termasuk keindahan terumbu karang yang ada di Nusa Penida dan kawasan wisata bahari lain di Indonesia.
Dibandingkan dengan Malaysia, masyarakat Indonesia mesti bangga memiliki wilayah perairan laut yang cukup luas. Malaysia mungkin mengedepankan wisata darat seperti perhotelan. Indonesia memiliki laut yang luas tentunya sangat tepat jika mengedepankan wisata bahari. Dari wisata bahari ini, pelaku wisata di Indonesia bisa menawarkan kegiatan snorkeling, diving, surfing dan wisata bahari yang lain.
Pemprop Bali termasuk kawasan Indonesia yang lain, memiliki data statistik kunjungan wisatawan. Pelaku pariwisata di Indonesia mesti menawarkan kegiatan wisata bahari kepada tiap wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2010 ini. Ini juga merupakan bagian kegiatan memprioritaskan pengembangan wisata bahari.
Wisatawan Eropa di antaranya tidak memiliki wilayah laut. Mereka sangat tepat ditawarkan menikmati keindahan alam bawah laut di Indonesia termasuk di Bali. Ini diimbangi dengan penambahan penyediaan wisata cruise di Bali. Dengan penyediaan kapal pesiar di Bali, bisa menjaring wisatawan mancanegara untuk berlibur lebih lama di Bali.
Bangun Image Perkampungan, Andalkan View Alam Lepas
Para pedagang kuliner di kampung turis Ubud harus pintar mencari celah agar usaha mereka bisa eksis. Untuk membangun sebuah image, mereka harus punya kuliner andalan dan panorama alam yang memadai. Seperti, Warung Sawah Indah yang berlokasi di Jalan Raya Goa Gajah, Teges Kangin, Peliatan, Ubud.
Bicara Kuliner di kampung turis Ubud selalu menarik untuk diikuti. Di kecamatan yang menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar di kabupetan Gianyar itu banyak dikenal makanan yang menjadi favorit turis, warga domestik, hingga pejabat tinggi. Sebut saja Bebek Bengil, Warung Guling Ibu Oka, Tepi Sawah dan lainnya. Kini, satu lagi warung yang ingin mengikuti sukses warung itu adalah Warung Sawah Indah yang mengandalkan gurami goreng dengan harga miring dan terjangkau bagi semua kalangan. Lokasinya kurang lebih 400 meter masuk ke utara di Jalan Raya Goa Gajah, Banjar Teges Kangin, Peliatan.
Warung yang juga menyediakan kolam pancing itu berdiri diatas lahan seluas 27 are. Lokasi warung yang dibuka 20 September lalu itu juga menghubungkan langsung ke sawah petani yang cukup luas. Nuansa tradisional menjadi andalan Warung Sawah Indah. “Kita ingin pengunjung makan sambil bersantai dengan suasana pedesaan yang kental,” kata Eka Sugiyantha, owner Sawah Indah.
Eka menyebutkan. selain gurami goreng dengan bumbu khas Bali juga dijual bebek goreng dengan harga terjangkau.”Sasaran kita bukan hanya wisatawan asing, tapi warga lokal. Jangan sampai warga lokal takut untuk datang,” ujar suami dari Yuli Setyawati itu. Sebulan buka, kata Eka, pengunjung yang datang cukup lumayan. Mereka berasal dari Jakarta, Surabaya, wisatawan asing hingga warga lokal.” View seperti ini membuat orang jadi betah,” ujarnya sambil menunjukan hamparan sawah. Pemandangan akan indah saat tanaman padi sedang tumbuh subur. Hamparan hijau akan terlihat jelas,” katanya meyakinkan.
Untuk memperkenalkan Sawah Indah yang dikelolanya. bapak satu anak itu mengaku melakukan banyak kiat. Selain aktif menyebarkan brosur ke berbagai tempat, pihaknya juga menyediakan kolam pancing bagi pengernar memancing. Nanti ikan yang didapatkan di kolam bisa dimasak di sini. Nanti ditimbang plus beli bumbu,” Sebutnya. Eka menegaskan, dirinya sama sekali tidak memiliki bakat kuliner. Cuma, istrinya Yuli Setyawati memang hoby memasak. Lantas kenapa memilih nama Sawah Indah ? Eka menjawab diplomatis, ini sesuai dengan lokasinya yang dekat sawah,” cetusnya.
Lantas berapa harga untuk ikan gurami ? Eka menyebutkan, untuk ikan gurami, pihaknya bisa menjual Rp 35 ribu, bebek goreng Rp 22 ribu dan lele Rp 10 ribu. “Satu keluarga tidak sampai menghabiskan uang banyak. Semuanya terjangkau,” tandasnya. Ditanya kritik yang datang dari pengunjung, Eja jujur mengakui masalah jalan yang belum di aspal. Memang jalannya sedikit bergelombang karena menuju areal sawah.”Kami berharap akses jalan ini segera mendapat perhatian pemerintah,” pungkasnya.
Duet Dibalik Tanjung Benoa Sebagai Kawasan Wisata
Pesatnya perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata tak lepas dari peran dua figur yakni I Wayan Ranten dan Dr. (Hons) Jro Gede Karang. Kedua figur ini oleh warga setempat diakui sebagai sosok yang berupaya dan berjuang menjadikan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata, karena sebelumnya Tanjung Benoa adalah jalur hijau yang ditumbuhi semak belukar dan di beberapa titik terlihat tandus dan gersang. “Jangankan beli dikasih minta pun orang gak mau karena semak belukar dan tidak produktif,” kisah I Wayan Ranten saat ditemui beberapa pekan lalu seraya memastikan di Novotel Benoa waktu itu juga masuk kawasan jalur hijau.
Setelah pemerintah merestui dan membukanya menjadi kawasan pariwisata, perlahan-lahan Tanjung Benoa mulai berbenah dengan melihat potensi masyarakatnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Maka alternative yang paling memungkinkan adalah mengembangkan menjadi kawasan wisata bahari. “Setelah dibuka jadi kawasan pariwisata tahun 1985 kami mulai bergerak dan bekerja keras untuk mengembangkan potensi kami. Berkat kerja keras lima tahun kemudian (1990) Tanjung Benoa eksis menjadi kawasan wisata khususnya bahari. Dan sejak saat itu daerah kami terkenal di seluruh Indonesia bahkan sampai ke mancanegara sebagai kawasan wisata bahari. Ini kerja keras kami bersama pak Jro Gede Karang meyakinkan pemerintah pusat dan provinsi agar kawasan Tanjung dibuka sebagai kawasan pariwisata,” cerita Pak Ranten sapaan akrabnya.
Dalam suatu kesempatan diskusi dengan wartawan di Bali Dr.(Hons) Jro Gede Karang (JGK) menceritakan berbagai upaya yang dilakukan untuk meyakinkan pemerintah pusat dan daerah agar membuka Tanjung Benoa sebagai kawasan pariwisata. “Memang dulunya daerah tersebut jalur hijau sesuai dengan Perda Bukit waktu itu. Karena kebutuhan wisatawan akan kamar begitu tinggi maka saya mengirim surat permohonan kepada Gubernur Bali untuk meninjau kembali perda bukit. Surat tersebut saya lampirkan dengan bukti-bukti bookingan yang tak bisa dipenuhi dari complain dan agent luar negeri yang tak bisa mendapat kamar di Bali,”ceritanya sembari menjelaskan saat itu Gubernur Bali (I.B. Mantra) mengatakan perubahan perda adalah hal yang sangat sulit tapi gubernur akan berusaha memanggil aparatnya dan bersama Ketua DPR Bali membentuk panitia untuk meninjau kembali Perda Bukit.
Gayung pun bersambut, upaya JGK tak sia-sia. Berselang beberapa minggu kemudian JGK di panggil Dinas Pekerjaan Umum (PU) untuk ikut memberikan masukan mengenai Master Plan Tanjung Benoa. “Saya kaget bercampur bangga karena usulan saya mendapat respons positif dari bapak gubernur. Sejak saat itu lokasi saya yang luasnya 3 hektar dan Tanjung Benoa secara umum dibebaskan dari Perda Bukit sehingga berubah menjadi kawasan pariwisata,”ungkap JGK berbangga.
Setelah menjadi kawasan pariwisata sempat muncul kekuatiran dari masyarakat setempat karena pariiwisata dianggap merusak dan tak membawa kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, JGK dan I Wayan Ranten membantah pendapat tersebut dan meyakinkan masyarakat pariwisata akan membawa perubahan ekonomi bagi masyarakat setempat. “Sejak jadi kawasan pariwisata kami yakin ada perkembangan dan perubahan Secara ekonomi karena Tanjung Benoa dekat dengan kawasan eksklusif BTDC, dekat juga dengan Kuta dan Sanur. Dengan pemahaman tersebut kekuatiran masyarakat pun hilang. Dan terbukti, kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa dan yang sebelumnya hanya seorang nelayan dan pencari batu kapur,” ujar JGK yang dibenarkan oleh coleganya Pak Ranten.
Akomodasi pioneer di Tanjung Benoa; Bali Resort (kini Novotel) tahun 1988, Bali Tropic Resort & Spa (1989 soft opening) menyusul Club Mirage, Melia Benoa, Ramada Benoa, Aston Bali dan
Peninsula.
Dulu Semak Belukar, Kini Semarak Sea Sport Activity
Sepuluh tahun terakhir wajah Tanjung Benoa berubah total dari yang sebelumnya dikelilingi semak belukar dan batu karang yang tandus. Perubahan tersebut akhirnya menempatkan Tanjung Benoa menjadi kawasan wisata yang sama dan sejajar dengan kawasan wisata lain seperti Sanur, Kuta, Nusa Dua dan Ubud. Bahkan kini Tanjung Benoa terkenal dengan brand yang sudah mendunia yakni sea sport activities pertama dan terbesar di Bali bahkan Indonesia.
Dulu mata pencaharian masyarakat setempat hanyalah nelayan, pemecah batu kapur dan mencari rumput laut untuk menunjang kepulan asap dapur dan membiayai pendidikan sekolah anak-anak. Kini semuanya telah beralih ke industri pariwisata khususnya sarana dan penunjang aktivitas water sports. Waktu itu mau beralih ke pariwisata namun muncul keraguan karena ada anggapan pariwisata itu jelek. Tapi setelah dijalani, semuanya sukses dan punya usaha sendiri. Kini, perubahan hidup masyarakat Tanjung Benoa luar biasa,” kata I Ketut Sukada Executive House Keeper Bali Tropic Resort & Spa sembari meminta terkait keadaan dan perkembangan Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata sebaiknya mewawancarai Pak Jro Karang dan Wayan Ranten biar informasinya lebih sempurna. “Mereka adalah pelopor Tanjung Benoa sebagai kawasan wisata,” sebutnya.
Ditemui di tempat bisnisnya di Tanjung Benoa I Wayan Ranten membenarkan bahwa wajah Tanjung Benoa kini telah berubah setelah pemerintah daerah menjadikannya sebagai kawasan pariwisata sejak tahun 1985. “Dulu Tanjung Benoa hanyalah semak belukar dan tanahnya tandus. Sejak dibuka menjadi kawasan pariwisata terjadilah kemajuan yang pesat khususnya di bidang wisata bahari. Karena sebagian penduduknya punya pekerjaan sebagai nelayan maka sangat mudah dikembangkan menjadi wisata bahari. Tahun 1990 kawasan Tanjung Benoa sudah mulai eksis di bidang wisata bahari. Ini semua berkat kerja keras, jujur dan terbuka warga kami disini,”cerita Pak Ranten sapaan akrabnya
The owner Lingga Sempurna Water Sport ini menyebutkan, kini Tanjung Benoa telah semarak dengan sea sports activity yang hampir semua dikelola dan melibatkan masyarakat setempat. Sea sports activities lanjutnya, didukung oleh beberapa aktivitas dilaut yang memanjakan tubuh sekaligus menguji nyali seperti parasailing, jet sky, banana boat, scuba diving, flying fish, snorkeling, fishing dan trolying. “Semua ini dilakukan oleh wisatawan dengan aman dan nyaman karena dipandu oleh instruktur yang profesional dan sudah puluhan tahun menggeluti aktivitas ini,” kata pria yang punya moto berselimut angin berbantal ombak kapan dan dimana pun.
Pak Ranten memastikan tiap hari kurang lebih 500-600 wisatawan (domestik dan mancanegara) membaur di pantai Tanjung Benoa untuk melakukan sea sports activities. “Bila musim liburan sekolah dan high season jumlah kunjungan wisatawan ke Tanjung Benoa menembus angka 2 ribu,” sebutnya memastikan. Dalam waktu dekat pihaknya akan menghidupkan kembali Community Tanjung Benoa (CTB) yang pernah ada beberapa tahun lalu. “Kalau sebelumnya CTB hanya bergerak di bidang kebersihan dan pemberdayaan sumber daya manusia, maka community yang akan datang akan melingkup seluruh aspek yang bersentuhan langsung dengan Tanjung Benoa Sebagai kawasan wisata bahari pertama dan terbesar di Bali dan Indonesia,” tegasnya.
Kawasan wisata Tanjung Benoa berada di Kelurahan Tanjung Benoa sekitar 8 kilometer dari utara kawasan wisata BTDC Nusa Dua. Kelurahan Tanjung Benoa memiliki 6 banjar yakni banjar Tengkulung, banjarTengah, banjar Pascima, banjar Kangin, banjar Anyar dan banjar
Panca bhineka.
Merebut Rezeki Laut
Untung ada Tulamben Jukung Race 2009 dan Yacht Rally Sail Indonesia — Lovina 2009. Kendati event di Bali timur (Tulamben) dan Bali utara (Lovina) sepi publikasi, tapi mesti tetap diapresiasi sebagai revitalisasi promosi wisata bahari Bali, yang selama ini nyaris tak terdengar. Sejak pencanangan tahun 2009 sebagai Tahun Wisata Bahari, belum ada aktivitas atau event wisata bahari lainnya di Bali yang cukup penting untuk dicatat.
Adanya konsensus bahwa seni-budaya adalah ikon pariwisata Bali, ternyata berdampak seperti meninabobokan kalangan pelaku bisnis wisata dan instansi terkait. Sebab pengalaman selama ini menunjukkan, tanpa strategi promosi pun paket wisata budaya Bali sudah punya selling point. Jadi, tidak ada urgensinya lagi misalnya untuk pengembangan wisata alternatif (wisata bahari). Aksi promosi pun terkesan hanya basa-basi. Misi budaya, promosi wisata atau apapun dipakai kemasannya, “melali massal” para aparat ke luar negeri, tetap saja hanya mengesankan buang-buang uang dan pajak rakyat.
Padahal jika ketergantungan pihak Pemda mengandalkan perolehan PAD dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR), aparat terkait tentu dituntut super aktif kreatif dan lebih inovatif mengambangkan potensi wisata Bali sebagai sumber pajak daerah. Dalam konteks ini kita tak akan pernah berhenti untuk selalu mengingatkan, bahwa para pelaku bisnis wisata dan instansi terkait untuk lebih sungguh-sungguh mengantisipasi dan menyikapi wacana ancaman kejenuhan terhadap atraksi dari objek wisata Bali. Indikasi kejenuhan itu antara lain banyaknya keluhan wisatawan akan makin sesaknya lingkungan atau objek wisata dengan aneka properti yang dulu dikenal sebagai kawasan wisata nyaman dan hijau royo-royo.
Salah satu solusi yang kita tawarkan adalah menoleh ke laut. Dengan kreativitas potensi laut bisa dikemas menjadi aneka paket wisata bahari yang menarik hati wisatawan dalam maupun luar negeri. Rezeki laut harus kita rebut! Sebab, saat ini belum semua potensi wisata laut di kawasan Bali timur (Tulamben, Amed, Tanah Ampo) dan Bali utara(Lovina, Pemuteran, Pulau Menjangan) tergali.
Dari pengelolaan kawasan wisata bahari yang telah relatif sukses, seperti di Sumatra (Batam, Belitung), Jakarta (Muara Baru, Ancol, Pulau Seribu), atau Sulawesi (Bunaken, Wakatobi) dan Bali (Pemuteran, Lembongan, Jimbaran, Tanjung Benoa) kawasan wisata bahari bisa dikemas jadi one stop reckreation and shoping. Artinya, selain menyediakan segala fasilitas untuk segala aktivitas bahari, berenang, menyelam, kano, atau mendayung, dan penginapan bernuansa laut, juga tersedia pasar ikan bagi nelayan, dan kuliner atau Pujasera (pusat jajan serba ada) khusus aneka menu hasil laut, baik untuk masakan lokal maupun menu kontinental. Dengan catatan, pengembangan potensi laut atau bahari harus tetap melibatkan masyarakat setempat dan satu paket dengan upaya pelestarian alam dan penyelamatan biota laut, maka tak perlu pakai ribut-ribut rezeki dari laut akan dapat direbut.